Postingan

Travel Learning Pertama di Awal Tahun

Gambar
Sabtu, 17 Januari 2025 Di akhir malam, aku dibangunkan oleh suara tangis bayi mungilku. Aku meraihnya untuk diberikan asi. Aku berusaha menahan kantuk krn alarm pun telah berbunyi, yang tandanya aku harus bersiap2 untuk bermunajat pada Rabb ku dan juga bersiap untuk pengantaran ibu mertuaku ba'da subuh nanti. 30 menit menjelang waktu subuh, aku membangunkan anak2 agar dapat beberes. Alhamdulillah mereka bisa tenang dan dapat diajak kerja sama. Setelah melaksanakan shalat subuh, abinya anak2 memesan kendaraan taxi online (Maxim) menuju bandara Soekarno-Hatta. Pagi ini cuaca agak dingin, hujan turun ketika kami mendekati lokasi bandara. Aku berdoa agar nanti perjalanan ibu mertuaku dimudahkan dan tidak terjadi delay pesawat. Dengan perjalanan kurang lebih 1 jam, kita langsung ke gate 5 tempat check-in Garuda Indonesia.  Setelah mengambil boarding pass, kita berpisah dengan neneknya anak2. Beliau menuju lounge (ruang tunggu), aku dan keluarga kecilku menuju kalayang (kereta api gratis...

Resume 'Remaja 32 tahun'

Gambar
Sesi 1 Tebar Ilmu HCE Indonesia (Ahad, 11 Januari 2026)   Remaja 32 Tahun Penelitian Universitas Cambridge: usia 32 tahun masih tergolong remaja karena stabilitas emosi, pencarian jati diri, dan kontrol diri yang belum matang. Fenomena ini bukan pada takdir biologis, melainkan sebagai produk dari sistem peradaban dan pendidikan yang gagal mendewasakan jiwa, hanya fokus pada pengasahan otak. Budaya "nanti saja dewasa" dan penundaan tanggung jawab memperpanjang masa remaja secara sosial. Orang tua diimbau untuk tidak menyalahkan anak, tetapi memperbaiki sistem pendidikan dan pola asuh. Kegagalan kedewasaan di usia muda merupakan output sistemik dari pendidikan yang hanya mengutamakan kepintaran dan kompetisi, tanpa penanaman tanggung jawab dan kebijaksanaan. Remaja yang berkepanjangan bukan prestasi, tapi peringatan akan kegagalan sistem. Dalam sejarah peradaban, tidak pernah dikenal masa remaja; yang ada adalah anak-anak dan pemuda yang langsung memikul tanggung jawab saat fis...

Cendil ubi ungu & kolang kaling

Gambar
🌸 Proyek Hari Ini: Membuat Cendil Ubi Ungu & Kolang-Kaling Dokumentasi pembuatan (4 Januari 2026) Pagi ini, Ahad 4 Januari 2026, kita berencana untuk membuat cendil. Rencana ini sudah sejak beberapa hari yang lalu, namun baru terealisasikan hari ini. Karena hari2 sebelumnya kita membuat makanan yang lain :) Setelah sarapan, anak2 berangkat bersama abi dan nenek ke pasar untuk membeli bahan2 yang diperlukan. Sepulang dari pasar, jam 09.35 WIB kita mulai eksekusi ubi nya. Dapur rumah berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Ummi mengajak Abdullah dan Hafshah membuat cendil dari ubi ungu ditemani kolang-kaling yang kenyal dan manis. Hafshah terlihat antusias sejak awal. Ia membantu mengupas ubi ungu, mengamati warnanya yang pekat, lalu bertanya, “Ummi, kok ubinya warnanya cantik sekali?” Anak2 mencoba untuk memotong ubi menggunakan pisau yang besar, tapi karena ubinya keras, mau ga mau ummi turun tangan membantu.  Setelah semua ubi matang dan diangkat, anak2 mencoba melumatkan u...

Refleksi homeschooling 2025

Belajar Bertumbuh, Bersama Tahun 2025 menjadi tahun yang sunyi namun dalam. Tidak selalu terlihat ramai oleh karya atau capaian yang bisa dipamerkan, tetapi penuh dengan proses —proses belajar menjadi manusia, baik bagi anak-anak maupun bagi diriku sebagai orangtua dan pendamping belajar. Homeschooling di tahun ini kembali mengingatkanku bahwa belajar bukan tentang seberapa cepat anak bisa membaca, menulis, atau berhitung. Melainkan tentang bagaimana mereka merasa aman untuk bertanya, nyaman untuk mencoba, dan percaya bahwa dirinya dicintai apa adanya. Banyak hari yang berjalan perlahan. Ada hari-hari ketika rencana belajar tidak berjalan sama sekali, karena emosi lebih dulu meminta ruang untuk dipeluk dan dipahami. Aku belajar bahwa ritme keluarga adalah kurikulum utama kami. Ketika ritme terganggu — karena lelah, sakit, perubahan fase tumbuh kembang, kehadiran anggota baru di keluarga atau dinamika rumah — maka belajar pun perlu menyesuaikan. Dan itu tidak apa-apa. Tahun ini mengajar...

Dokumentasi homeschooling 2025

Gambar
Perjalanan itu kembali dimulai Kenapa kembali dimulai? Krn aku sudah belajar sebelumnya, dan merasa ilmu ku belum cukup, dan berusaha untuk belajar kembali, tumbuh bersama anak2ku. Bulan September 2025, sedikit demi sedikit aku mulai belajar tentang homeschooling lagi. Meski sudah praktek berulang dan sering trial and error, aku memutuskan untuk ikut 2 kelas dari Rumah Inspirasi yaitu kelas management keseharian homeschooling dan kelas 10 keterampilan dasar.  Ada banyak hal yang dipelajari di kelas ini, mulai dari mengenal apa itu homeschooling, bagaimana mengatur ritme harian, journaling, dokumentasi dan portofolio homeschooling juga tentang keterampilan yang diperlukan untuk hidup. Alhamdulillah waktu itu ada 2 mini program, yaitu project management skill dan membaca memahami.  Setelah ditelusuri lagi, masih banyak hal yang belum profesional pada diriku sebagai orangtua. Meski begitu, tak pernah ada kata terlambat untuk mulai belajar lagi dan lagi. Dan sejatinya, belajar ada...

Merayakan cinta

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat dalam sebuah pernikahan. Selama itu, perjalanan kita dipenuhi tawa dan air mata, serta perjuangan dan kemenangan kecil yang perlahan membentuk aku menjadi "kita" yang ada hari ini. Perjalanan dua jiwa ini terus bertumbuh. Enam tahun lalu, kita menikah sebagai versi diri yang masih polos dan idealis. Kini, kita telah menjadi pasangan yang lebih matang, bijak, dan lebih memahami cara saling mencintai. Selama enam tahun, kita telah melalui berbagai fase naik turun yang justru menguatkan. Mungkin ada pertengkaran kecil yang mengajarkan kesabaran, kesalahpahaman yang membuka ruang untuk komunikasi lebih jujur, dan masa-masa melelahkan ketika mengurus anak, keluarga, dan pekerjaan. Namun, di balik semua itu, terdapat momen-momen hangat di mana kita bisa saling bersandar. Semua ini bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa hubungan kita hidup dan terus berkembang. Cinta kita pun mengalami perubahan. Jika dulu cinta terasa berbunga dan ber...

Anak pendiam lebih mudah jadi sasaran?

Hari ini aku ingin berbagi sebuah kenyataan yang sering kita sebagai orang tua luput menyadarinya. Kita sering merasa bangga ketika anak sopan, tidak banyak tingkah, mudah diarahkan, dan menghormati orang dewasa. Namun dalam banyak kasus grooming, ada satu pola yang selalu muncul: Anak yang baik, patuh, lembut, pendiam, dan tidak pernah menyulitkan siapa pun… lebih berisiko menjadi sasaran. Bukan karena mereka lemah. Tetapi karena: • tidak ingin merepotkan orang lain • takut mengecewakan orang dewasa • mudah percaya dan cepat patuh • tidak berani mengatakan “tidak” ketika tidak nyaman Sifat-sifat ini adalah sifat mulia. Namun dari sisi keselamatan diri, ini bisa membuat mereka lebih rentan. Itulah sebabnya terkadang ada anak yang: • diam meski merasa tidak nyaman dengan seseorang • memberi tanda-tanda kecil, namun kita sebagai orang tua tidak menyadarinya • tiba-tiba berubah perilaku • menyembunyikan cerita karena takut dimarahi atau membuat orang tua sedih Dan inilah karakter yang ser...