Cendil ubi ungu & kolang kaling

🌸 Proyek Hari Ini: Membuat Cendil Ubi Ungu & Kolang-Kaling


Dokumentasi pembuatan (4 Januari 2026)

Pagi ini, Ahad 4 Januari 2026, kita berencana untuk membuat cendil. Rencana ini sudah sejak beberapa hari yang lalu, namun baru terealisasikan hari ini. Karena hari2 sebelumnya kita membuat makanan yang lain :)

Setelah sarapan, anak2 berangkat bersama abi dan nenek ke pasar untuk membeli bahan2 yang diperlukan.

Sepulang dari pasar, jam 09.35 WIB kita mulai eksekusi ubi nya. Dapur rumah berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Ummi mengajak Abdullah dan Hafshah membuat cendil dari ubi ungu ditemani kolang-kaling yang kenyal dan manis.


Hafshah terlihat antusias sejak awal. Ia membantu mengupas ubi ungu, mengamati warnanya yang pekat, lalu bertanya,

“Ummi, kok ubinya warnanya cantik sekali?”

Anak2 mencoba untuk memotong ubi menggunakan pisau yang besar, tapi karena ubinya keras, mau ga mau ummi turun tangan membantu. 

Setelah semua ubi matang dan diangkat, anak2 mencoba melumatkan ubi menggunakan cobek. Kemudian ummi membantu memasukkan tepung dan garam agar sesuai takaran.


Abdullah, dengan tangannya yang masih kecil, ikut meremas adonan. Sesekali ia tertawa saat adonan lengket di jarinya.

“Lengkeeeet,” katanya sambil menunjukkan tangannya pada ummi.

"Kayak plastisin mii", kata Hafshah sambil mengambil adonan dan memisahkannya ke dalam kotak kecil untuk dimainkan nanti.


Saat membentuk cendil kecil-kecil, Hafshah mencoba membuat ukuran yang sama, sementara Abdullah lebih menikmati proses menekan dan menggulung tanpa target bentuk. Ummi membiarkan, karena hari ini bukan tentang hasil yang sempurna, tapi tentang pengalaman belajar. Baru separoh yang dibentuk, Hafshah sudah menyerah, cape mi. Lalu disusul oleh Abdullah.. Tapi mereka kembali ikut disesi akhir membulat2kan adonan. Syukurlah..


Ketika air mendidih dan cendil mengapung satu per satu, anak-anak bersorak kecil.

“Lihat kak, udah mengapung semua, itu tandanya sudah matang,” kata ummi, sambil mengaitkan proses memasak dengan pembelajaran.


Kami menutup kegiatan dengan duduk bersama, menikmati cendil hangat, membaca basmalah, dan bersyukur atas rezeki sederhana hari ini.


Selesai sudah proses memasak ini pukul 11.30 WIB. Yah, lumayan melelahkan, menguras kesabaran, tp suka dengan proses nya, banyak pembelajaran yang terselip dari aktivitas ini.. Alhamdulillah biidznillah.


🌱 Apa yang Dipelajari dari Proyek Ini?

🧠 1. Kognitif & Sains Dasar

- Mengenal perubahan bentuk: dari ubi keras → adonan → cendil matang

- Mengamati sebab–akibat: direbus → mengapung → matang

- Mengenal warna alami (ungu dari ubi)


✋ 2. Motorik Halus

- Mengupas, meremas, membentuk adonan

- Koordinasi tangan–mata saat membuat bulatan kecil


🗣️ 3. Bahasa & Komunikasi

- Menambah kosakata: ubi, lengket, bulat, matang, mengapung

- Melatih anak menceritakan kembali proses yang dilakukan

- Melatih keberanian berbicara dengan orang lain ketika berbagi makanan


💞 4. Sosial-Emosional

- Belajar menunggu giliran

- Bekerja sama dan berbagi peran

- Merasakan kepuasan dari hasil usaha sendiri

- Berbagi makanan kepada tetangga


🌿 5. Life Skill & Adab

- Belajar memasak sebagai keterampilan hidup

- Membaca basmalah sebelum mulai

- Bersyukur dan menikmati makanan bersama


🍠 Resep Cendil Ubi Ungu & Kolang-Kaling

Bahan Cendil:

250 gr ubi ungu, kukus dan haluskan

± 100 gr tepung tapioka (secukupnya sampai bisa dibentuk)

Sejumput garam

Air secukupnya (jika perlu)

± 100 gr gula pasir


Cara Membuat:

1. Campur ubi ungu, garam, dan tapioka.

2. Uleni hingga bisa dipulung (tidak terlalu lembek).

3. Bentuk kecil-kecil (boleh versi anak, tidak harus seragam).

4. Rebus air + gula + daun pandan hingga mendidih, lalu masukkan adonan cendil yang sudah dibentuk, tunggu hingga mengapung.


Pelengkap:

Kolang-kaling, rebus dengan sedikit gula

Saus santan: santan + sejumput garam + daun pandan (opsional). Jika mau kental, bisa tambahkan tepung tapioka sedikit.


🌼 Catatan Homeschooling

Hari ini anak-anak belajar bahwa belajar tidak selalu di meja dan buku.

Belajar bisa terjadi di dapur, lewat tangan yang belepotan adonan, tawa kecil, dan kebersamaan.

----

Khairunnisa Muflihunna


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curhat memulai homeschooling

Anak pendiam lebih mudah jadi sasaran?

MDM 5: Literasi Dakwah Muslimah