Dokumentasi homeschooling 2025

Perjalanan itu kembali dimulai

Kenapa kembali dimulai? Krn aku sudah belajar sebelumnya, dan merasa ilmu ku belum cukup, dan berusaha untuk belajar kembali, tumbuh bersama anak2ku.

Bulan September 2025, sedikit demi sedikit aku mulai belajar tentang homeschooling lagi. Meski sudah praktek berulang dan sering trial and error, aku memutuskan untuk ikut 2 kelas dari Rumah Inspirasi yaitu kelas management keseharian homeschooling dan kelas 10 keterampilan dasar. 

Ada banyak hal yang dipelajari di kelas ini, mulai dari mengenal apa itu homeschooling, bagaimana mengatur ritme harian, journaling, dokumentasi dan portofolio homeschooling juga tentang keterampilan yang diperlukan untuk hidup.

Alhamdulillah waktu itu ada 2 mini program, yaitu project management skill dan membaca memahami.  Setelah ditelusuri lagi, masih banyak hal yang belum profesional pada diriku sebagai orangtua. Meski begitu, tak pernah ada kata terlambat untuk mulai belajar lagi dan lagi. Dan sejatinya, belajar adalah seumur hidup kan?!

Di akhir tahun ini, Desember 2025, ada challenge dari Rumah Inspirasi untuk membuat dokumentasi homeschooling dan kegiatan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun sebelumnya. Kabarnya hadiah tahun ini adalah mendapatkan akses 1 tahun kelas parent growth program, bagi 3 peserta yang terpilih dokumentasi nya.

Dan tentu saja aku sangat tertarik untuk mencoba memulai rekap dokumentasi kegiatan anak2 setahun ini. Yang awalnya merasa ga ngapa-ngapain setahun ini, ternyata ada banyak pelajaran yang dilalui. Ga hanya anak2 yang bertumbuh, aku sebagai orangtuanya ternyata juga bertumbuh bersama mereka. Bukan demi hadiah, namun lebih ke belajar dan praktekkan ilmu yang dipelajari. Ya, untuk apa belajar kalau ternyata ga dipraktekkan. 

Dan setelah beberapa hari merekap dokumentasi di Canva, aku mencoba berbagi tautan umum ke keluarga dan beberapa orang teman. Meski belum banyak respon dari mereka karena aku hanya bilang itu ceklis tumbuh kembang anak saja tanpa embel-embel dokumentasi homeschooling, tapi aku merasa senang dengan ini.

Lalu, seberapa penting kah dokumentasi ini?

Awalnya aku mengira dokumentasi homeschooling hanyalah kumpulan foto, catatan kegiatan, atau laporan belajar. Sesuatu yang terasa administratif, bahkan kadang melelahkan. Namun seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa dokumentasi bukan tentang membuktikan apa-apa kepada orang lain, melainkan tentang menyadari apa yang sedang tumbuh di depan mata ku sendiri.

Ada hari-hari ketika anak tampak hanya bermain. Ga ada lembar kerja, ga ada target yang dicentang. Tapi ketika aku tuliskan kembali apa yang terjadi hari itu—bagaimana ia menyusun balok dengan penuh konsentrasi, mengulang cerita yang sama berkali-kali, atau bertanya dengan rasa ingin tahu yang polos— aku melihat bahwa belajar sedang berlangsung, hanya saja bentuknya tidak selalu seperti yang diajarkan di bangku sekolah.

Dokumentasi membantu aku menoleh ke belakang dan berkata, “Oh, ternyata anakku sudah sejauh ini.”

Yang dulu belum bisa mengungkapkan perasaan, kini mulai bercerita.

Yang dulu mudah frustrasi, kini lebih sabar mencoba lagi.

Perkembangan itu sering luput jika tidak dituliskan.

Lebih dari itu, dokumentasi juga menenangkan hatiku sebagai orang tua. Di tengah keraguan, perbandingan, dan suara-suara luar yang mempertanyakan pilihan homeschooling, catatan kecil itu menjadi pengingat bahwa proses ini nyata. Bahwa pertumbuhan tidak selalu cepat, tetapi selalu bermakna. Aku belajar bahwa yang perlu dievaluasi bukanlah anaknya, melainkan cara aku mendampingi.

Bagiku, dokumentasi adalah cerita tentang dirinya sendiri. Tentang apa yang ia sukai, apa yang membuatnya bersemangat, dan bagaimana ia belajar dengan caranya. Kelak, catatan ini bukan sekadar arsip, tetapi jejak identitas bahwa ia pernah dihargai dalam proses belajarnya, bukan hanya dinilai dari hasilnya.

Dan jika suatu saat dokumentasi itu dibutuhkan untuk urusan administratif—portofolio, laporan, atau keperluan formal lainnya—ia sudah tersedia dengan jujur, tanpa harus dibuat-buat. Karena sejak awal, dokumentasi ini lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.

Akhirnya aku memahami, dokumentasi homeschooling adalah cara ku menjaga ruh belajar tetap hidup. Ia menolongku untuk tidak tergesa-gesa, tidak menghakimi, dan tidak kehilangan makna. Bahwa dalam perjalanan ini, yang sedang dibangun bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi seorang manusia yang utuh, sesuai fitrahnya.

Khairunnisa Muflihunna 

17 Desember 2025

Dokumentasi


Ahad, 28 Desember 2025

Dini hari aku terbangun, aku teringat kalau tgl 27 Desember 2025 adalah pengumuman tantangan dokumentasi homeschooling, Aku sangat berharap bisa mendapatkan hadiah parent growth program akses 1 tahun. Dengan aku mengikuti tantangan dokumentasi homeschooling usia dini 2025 ini, aku mencoba belajar ooh seperti ini yang namanya laporan belajar anak homeschooling..

Ku lihat link YouTube yang dikirimkan admin di grup komunitas rumah inspirasi, ternyata aku hanya dapat berhasil sampai pada tahap dokumentasi yang aku buat masuk kategori inspiratif. Aku belum beruntung mendapatkan hadiah PGP 

Yaa Allah, aku ikhlas. Krn aku bisa mencapai hal itu. Dan aku telah mempraktekkan ilmu yang aku pelajari sedikit demi sedikit agar proses pengasuhan anak2 ku lebih baik.

Yaa Allah, aku ingin meminta kepada mu hal yang lebih baik kedepannya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curhat memulai homeschooling

Anak pendiam lebih mudah jadi sasaran?

MDM 5: Literasi Dakwah Muslimah