Anak pendiam lebih mudah jadi sasaran?

Hari ini aku ingin berbagi sebuah kenyataan yang sering kita sebagai orang tua luput menyadarinya.


Kita sering merasa bangga ketika anak sopan, tidak banyak tingkah, mudah diarahkan, dan menghormati orang dewasa.


Namun dalam banyak kasus grooming, ada satu pola yang selalu muncul:

Anak yang baik, patuh, lembut, pendiam, dan tidak pernah menyulitkan siapa pun… lebih berisiko menjadi sasaran.

Bukan karena mereka lemah.

Tetapi karena:

• tidak ingin merepotkan orang lain

• takut mengecewakan orang dewasa

• mudah percaya dan cepat patuh

• tidak berani mengatakan “tidak” ketika tidak nyaman


Sifat-sifat ini adalah sifat mulia.

Namun dari sisi keselamatan diri, ini bisa membuat mereka lebih rentan.


Itulah sebabnya terkadang ada anak yang:

• diam meski merasa tidak nyaman dengan seseorang

• memberi tanda-tanda kecil, namun kita sebagai orang tua tidak menyadarinya

• tiba-tiba berubah perilaku

• menyembunyikan cerita karena takut dimarahi atau membuat orang tua sedih


Dan inilah karakter yang sering dicari oleh pelaku.

Bukan anak yang “nakal”, tetapi anak yang:

• rajin membantu

• jarang membantah

• cepat percaya

• takut merepotkan siapa pun


Karena itu, kita perlu membekali mereka dengan satu bentuk kekuatan lagi:

☑️ Kekuatan untuk berkata “tidak”.

☑️ Kekuatan memahami batasan tubuh sendiri.

☑️ Kekuatan untuk datang kepada kita tanpa rasa bersalah atau takut.


Ilmu ini bukan untuk mengajarkan anak melawan.

Ini adalah tentang melindungi diri, dan memahami bahwa tubuh mereka adalah amanah yang harus dijaga.


Dengan kondisi lingkungan saat ini, aku sangat percaya setiap rumah perlu memiliki pemahaman ini.


Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita.


---

Ada alasan kenapa topik ini begitu dekat di hati ku.


Saat di bangku SD, aku pernah mengalami pengalaman yang sampai hari ini masih membekas.

Bukan oleh orang asing…

tapi oleh seseorang yang ku kenal. Seseorang yang seharusnya bisa dipercaya.


Aku ingat betapa bingungnya diri kecil ku waktu itu. Ada rasa marah, takut dan merinding

Tidak tahu harus bercerita kepada siapa.

Takut dianggap salah.

Takut mengecewakan orang dewasa.

Dan yang paling berat… aku hanya diam. Bertahun-tahun.


Pengalaman itu membuat aku memahami satu hal:

anak pendiam bukan tidak tahu apa yang terjadi,, mereka hanya tidak tahu bagaimana meminta tolong.


Dan aku tidak ingin anak-anak kita mengalami hal yang sama.

Aku ingin mereka punya kekuatan yang dulu tidak ku punya:

kekuatan berkata tidak,

kekuatan mengenal batasan diri,

dan kekuatan datang kepada kita tanpa rasa takut.


Postingan ini lahir dari luka itu,, tapi sekaligus dari harapan besar ku agar generasi setelah kita tumbuh lebih terlindungi.


Untuk semua orang tua, semoga Allah menjaga anak-anak kita dari hal-hal yang tak pernah kita inginkan.

Dan untuk siapa pun yang pernah mengalami hal serupa…

kamu tidak sendiri. Kamu tidak salah. Kamu layak sembuh.


----

Jakarta Selatan, 19 November 2025

Khairunnisa Muflihunna 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curhat memulai homeschooling

MDM 5: Literasi Dakwah Muslimah