Curhat memulai homeschooling
Curhat Seorang Ibu dengan Tiga Anak: Tentang Homeschooling, Letih, dan Bahagia yang Aneh Bentuknya
Kadang aku masih heran sendiri, bagaimana akhirnya aku sampai di titik ini: menjalani hari-hari homeschooling bersama tiga anak, dengan rumah yang jarang benar-benar rapi dan kepala yang kadang penuh suara-suara kecil yang saling berebut perhatian.
Dulu aku pikir homeschooling itu tentang kegiatan belajar yang indah; meja kayu, buku-buku berjejer, dan anak-anak yang duduk manis dengan mata berbinar. Nyatanya? Lebih sering tentang menenangkan anak yang menangis karena tak mau menggambar, menyusui bayi di tengah sesi belajar huruf, atau menyiapkan makan siang sambil menjawab pertanyaan tentang “kenapa langit warnanya biru”.
Tapi entah bagaimana… di sela-sela kekacauan itu, ada kedamaian yang tak bisa dijelaskan.
Belajar yang Sebenarnya Dimulai dari Ibu
Sebelum anak-anak belajar apa pun, aku yang belajar lebih dulu.
Belajar sabar.
Belajar mendengarkan, bukan hanya mengarahkan.
Belajar melepaskan ambisi tentang “harus bisa baca di usia sekian” dan menggantinya dengan “biarlah ia mencintai belajar dulu”.
Aku belajar bahwa homeschooling bukan sekadar metode, tapi gaya hidup.
Ia memaksa kita memeluk setiap detik, termasuk detik-detik kacau, detik-detik lelah, dan detik-detik ragu.
Tiga Anak, Tiga Dunia
Anak pertama, si logis yang suka bertanya “mengapa”.
Anak kedua, si perasa yang bisa menangis hanya karena awan menutupi matahari.
Dan si bungsu, bayi kecil yang sedang belajar merangkak tapi sudah ingin ikut “sekolah”.
Mereka bertiga mengajarkanku hal yang sama tapi dengan bahasa yang berbeda:
bahwa setiap anak punya iramanya sendiri.
Tugasku bukan memaksa mereka ikut iramaku, tapi menari bersama dalam irama mereka.
Ada hari di mana aku merasa gagal total.
Ada hari di mana aku ingin menyerah dan menyekolahkan saja mereka ke sekolah formal.
Tapi selalu saja, ada momen kecil yang mengembalikan semangatku, seperti ketika anakku membaca doa sebelum belajar dengan suara lembut, atau saat ia berbisik, “Ummi, aku suka belajar sama Ummi.”
Homeschooling Itu Bukan Tentang Kurikulum, Tapi Tentang Kehadiran
Semakin ke sini aku sadar, homeschooling bukan soal apakah anakku sudah bisa menulis huruf dengan rapi atau belum.
Tapi tentang apakah aku hadir sungguh-sungguh saat mereka butuhku.
Apakah aku mendengarkan mereka tanpa tergesa.
Apakah mereka merasa diterima, bukan diukur.
Kadang aku tak sempat menyiapkan worksheet atau kegiatan keren dari Pinterest.
Tapi aku berusaha menyiapkan hati yang lapang.
Dan mungkin, itu yang paling dibutuhkan anak-anak saat ini.
Aku Juga Sedang Tumbuh
Ternyata, homeschooling bukan hanya tentang mendidik anak.
Tapi tentang menemukan diriku sendiri lagi, versi yang lebih lembut, lebih sadar, lebih berserah.
Aku belajar bahwa menjadi ibu bukan berarti harus sempurna.
Menjadi ibu berarti terus belajar, bersama anak-anak yang menjadi cermin perjalanan jiwaku.
Jadi kalau ada yang bertanya, “Capek nggak homeschooling tiga anak?”
Jawabanku: capek, iya.
Tapi anehnya, di tengah lelah itu ada rasa cukup yang tak tergantikan.
Rasa yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memilih jalan sunyi ini, jalan belajar bersama keluarga, di rumah, dengan cinta.
Khairunnisa Muflihunna
Ummu Hafshah, Abdullah, Musa
Oktober 2025

Komentar
Posting Komentar