VBAC - kelahiran Abdullah
Bukittinggi, 27 Februari 2022
Menjelang subuh, sekitar pukul tiga pagi, ketika memeluk putri pertamaku yang dalam keadaan panas demam, aku mulai merasakan kontraksi. Awalnya masih lembut, ku pikir ini hanya sakit perut masuk angin karena tidur di lantai atau karena dia menyusu (aku melakukan tandem nursing ketika hamil), lalu ia datang setiap lima belas menit sekali, seperti gelombang kecil yang naik dan turun perlahan. Rasanya masih bisa kutahan, tapi ada perasaan yakin di dada: “Ini kontraksi asli, bukan sakit perut biasa. Sepertinya hari ini waktunya bayiku lahir.”
Aku berwudhu, lalu bersiap untuk shalat Subuh. Setelahnya, aku melihat ada lendir bercampur darah — tanda bahwa proses persalinan benar-benar sudah dimulai. Lalu aku katakan pada suami bahwa aku sudah ada tanda2 akan melahirkan. Aku meminta maaf padanya, juga kepada mama dan semua anggota keluarga. Meminta doa tulus dari mereka atas proses kelahiran nanti.
Pagi itu udara Bukittinggi terasa segar dan dingin. Alih-alih panik, aku memilih menyiapkan tubuh dan pikiranku dengan tenang. Sekitar pukul tujuh pagi, aku pergi pijat hamil, agar jalan lahir lebih lancar. Badan terasa lebih ringan setelahnya.
Selesai pijat, aku meminta suami untuk mengantarkanku berbelanja ke pasar, padahal biasanya aku tidak pernah sekalipun belanja ke pasar setelah menikah. Kami membeli bahan masakan — entah kenapa aku ingin sekali memasak gulai udang daun ubi hari itu. Ada semangat aneh dalam diri, seperti naluri yang tahu bahwa ini akan jadi hidangan terakhir sebelum kehidupan baru dimulai. Di dapur, aku berhenti sesekali setiap kali kontraksi datang, menunduk sambil menarik napas panjang dan berzikir pelan. Menggoyangkan badan agar bayi turun menuju jalan lahir.
Menjelang siang, setelah shalat Zuhur, aku beristirahat sejenak. Kontraksi makin teratur, tapi masih bisa kutemani dengan posisi tidur miring ke kiri sambil mengatur napas.
Sekitar pukul dua siang, anak pertamaku Hafshah, diajak pergi bermain bersama keluarga. Rumah mendadak tenang, hanya ada aku, mama, dan suami yang sesekali mengecek kondisiku.
Menjelang pukul tiga sore, kami memutuskan untuk berangkat ke klinik bersalin di Bukittinggi — jaraknya sekitar 35 menit dari rumah. Aku naik mobil bersama mama dan suami tante, sementara suami mengikuti di belakang dengan motor. Di perjalanan, kontraksi makin kuat dan sering. Setiap gelombang datang, aku menggenggam erat tangan mama, berusaha tetap fokus pada napas dan doa.
Setibanya di klinik, bidan segera memeriksa, dan dengan nada terkejut ia berkata,
“Sudah bukaan delapan, Bu! Sedikit lagi ya, tahan sebentar.”
Aku dipasang infus untuk membantu tenaga dan cairan. Rasanya seperti maraton yang baru akan berakhir. Di sela-sela menahan kontraksi, bidan menawariku minuman, aku malah minta kopi telur, tapi disana tidak tersedia, akhirnya berkata pada suamiku,
“Tolong belikan kopi talua, ya… buat tambah tenaga.”
Ia bergegas keluar, dan beberapa menit kemudian minuman hangat itu sampai di tanganku, aroma manis telur dan kopi menguatkan semangatku.
Waktu terus berjalan, aku meminta agar aku dapat bergerak leluasa, namun aku terhalang Krn dipasang infus, tanganku berdarah Krn keseringan bergerak.
Setiap kontraksi semakin dalam, seperti ombak yang mendorong tubuh ini menuju puncaknya. Bidan dan mama terus menyemangati, sementara suamiku menggenggam tanganku erat.
Dan akhirnya, tepat pukul enam sore, dalam tangisan panjang dan penuh lega, Abdullah lahir dengan selamat.
Bayiku sempat pucat karena agak lama di jalan lahir, sehingga bidan segera memberikan oksigen. Tak sempat IMD (Inisiasi Menyusu Dini), tapi aku tahu tubuhnya berjuang keras untuk bernapas sendiri. Saat mendengar tangisannya kembali, aku tak bisa menahan air mata.
Setelah 5 menit, plasenta pun lahir. Aku mendapat jahitan episiotomi, namun rasa sakit itu tertutup oleh rasa syukur yang membuncah. Setelah pernah menjalani operasi sesar, kini aku merasakan sendiri bagaimana proses alami itu bekerja, luar biasa, menegangkan, tapi juga penuh kuasa Ilahi.
Malam itu, di antara rasa lelah dan keharuan, aku memandangi wajah bayi mungilku yang masih terbaring di dekatku. Bibirnya mungil, napasnya teratur, kulitnya mulai berwarna merah muda. Dalam hati aku berbisik pelan:
“Selamat datang, sayang. Engkaulah doa panjang yang Allah kabulkan di waktu terbaik.”
-----
Refleksi Setelah VBAC
Kelahiran yang Menyembuhkan
Malam itu, setelah semuanya usai dan tubuh mulai tenang, aku berbaring memandangi wajah mungil Abdullah yang baru beberapa jam hadir di dunia.
Suara napasnya lembut, halus seperti dzikir alam. Di sela-sela rasa lelah dan nyeri yang masih terasa di tubuh, ada perasaan damai yang sulit dijelaskan, seolah seluruh semesta sedang berbisik: “Engkau sudah melewatinya, Nisa. Dengan izin Allah, engkau berhasil.”
Setelah pengalaman melahirkan pertama dengan operasi sesar, aku sempat menyimpan luka batin kecil yang tak banyak orang tahu. Luka karena belum sempat memeluk bayi seketika setelah lahir, karena harus berpisah di awal, dan karena tubuh terasa seperti ‘tidak mampu’.
Namun hari ini, melalui perjalanan kelahiran Abdullah, Allah mengajarkanku makna pemulihan sejati.
Bukan hanya tubuhku yang melahirkan, tapi juga hatiku. Rasa takut yang dulu melekat, kini luruh diganti dengan rasa yakin. Rasa ragu pada kemampuan diri, tergantikan oleh kepercayaan penuh kepada kehendak Allah.
Setiap gelombang kontraksi hari itu seolah menjadi zikir, setiap napas menjadi doa, setiap tetes keringat menjadi saksi bahwa di balik kelembutan seorang ibu, ada kekuatan yang luar biasa besar.
VBAC ini bukan sekadar “melahirkan normal setelah sesar,” tapi perjalanan menyembuhkan diri, menyatukan tubuh, hati, dan jiwa kembali dalam satu irama kehidupan.
Aku belajar bahwa kelahiran bukan tentang cara, tapi tentang keikhlasan.
Tentang bagaimana seorang ibu menjemput takdirnya dengan sabar, dan menyerahkan seluruh kendali hanya pada Rabb yang Maha Mengatur.
Kini, setiap kali aku memandang Abdullah, aku tak hanya melihat seorang bayi, aku melihat bukti nyata rahmat Allah, bukti bahwa kesembuhan dan kekuatan itu nyata, asal kita berserah tanpa takut.
“Abdullah, engkau lahir bukan hanya membawa kehidupan baru, tapi juga menyembuhkan luka lama ummi. Engkau datang membawa makna, bahwa setiap kelahiran adalah tanda kasih Allah yang tiada batas."
Komentar
Posting Komentar