Birth Story of My Princess Hafshah

Subuh itu, udara masih sejuk dan gelap ketika aku merasa ada yang berbeda. Ada rembesan hangat di antara langkahku — ketubanku mulai merembes. Jantungku berdebar, antara yakin dan ragu: “Apakah ini saatnya?”


Kami segera bersiap menuju bidan. Namun ujian kecil datang, motor kami kehabisan bensin. Dalam gelap dan sepi, kami berhenti di pinggir jalan. Rasanya seperti adegan yang tak akan terlupa: sambil menunggu suamiku datang membeli bensin, aku mencoba menahan agar rembesan itu tidak terus mengalir, namun nihil. Setelah itu, kami kembali melaju, ditemani doa yang tak henti.


Sesampainya di bidan, aku diperiksa. Hasilnya, posisi bayi oblique, miring, belum di jalur lahir. Bidan pun menyarankan untuk segera dirujuk ke RSIA Axxxda Solok, karena beliau tidak bisa menangani hal seperti ini. 

Kamipun bersiap² berangkat menuju RS yang dirujuk, membawa perlengkapan seadanya, semua serba terbatas, krn ini sangat mendadak, jauh dari jadwal perkiraan HPL. Berangkat menggunakan mobil seorang bapak yang menjadi jamaah kajian di salah satu masjid di Alahan Panjang.

Di sana kami tiba sekitar 08.30 pagi, dan hasil USG menunjukkan bayi hanya 1,8 kilogram. Perawat menyarankan operasi sesar, namun memberi tahu bahwa fasilitas NICU di sana belum memadai, dan bayi mungkin harus dipisahkan dariku setelah lahir. Dokter pun hanya bisa menangani di waktu siang,


Aku terdiam. Hati ini campur aduk, takut, tapi juga pasrah. Setelah berdiskusi dengan suami dan ibu mertua, kami akhirnya memutuskan untuk pindah ke RS lain. Mencoba mencari RS yang memadai, setelah 2 tempat dicari, kamipun memutuskan untuk memilih RSIA Permata Bunda Solok.

---


Di rumah sakit baru itu, aku dan suami mendaftar lewat jalur umum, dan aku langsung dibawa ke ruang bersalin. Perawat memintaku berbaring di tempat tidur, kemudian memasangkan alat CTG di perut — sabuk melingkar dengan dua sensor kecil yang memantau detak jantung bayi dan kontraksiku. Bunyi “duk-duk-duk” yang cepat terdengar dari mesin membuat mataku berkaca-kaca. Suara kehidupan kecil di dalam diriku, sebentar lagi akan hadir di dunia nyata.


Setelah pemeriksaan selesai dan semua administrasi beres, aku diminta bersiap untuk operasi. Area perut bagian bawah dibersihkan dan dicukur, infus dipasang di tangan kanan, lalu aku diminta mengganti pakaian dengan baju operasi. Perawat membantu menenangkanku, meski ekspresi mereka datar, sibuk dengan rutinitas. Tidak ada perlakuan khusus, tapi aku tetap merasa didampingi oleh doa dan kehadiran orang-orang terdekat.


Sekitar pukul satu siang, aku berjalan perlahan menuju ruang operasi. Kakiku gemetar, tapi aku berusaha tegar. Di dalam ruangan dingin itu, cahaya lampu operasi terasa menyilaukan. Bau antiseptik kuat menusuk hidung. Tim medis sudah siap dengan pakaian hijau steril.


Dokter anestesi menghampiri dan berkata lembut,

“Bu, sekarang kita mulai ya, biusnya setengah badan.”


Aku duduk menunduk, lalu merasakan suntikan di punggung bagian bawah. Dalam hitungan detik, kehangatan menjalar dari pinggang hingga kaki, membuat tubuh bagian bawah terasa mati rasa. Lalu berbaring seperti disalib — tangan dibentangkan ke kiri dan kanan. Setelah kain hijau dipasang di depan dadaku, aku hanya bisa menatap langit-langit dan berzikir pelan, “Hasbunallah wa ni‘mal wakil.”


Dokter memastikan aku tak lagi merasakan sakit. Lalu proses pun dimulai. Aku hanya merasakan tekanan dan tarikan lembut di perut. Tidak ada rasa nyeri, hanya sensasi seperti digoyang dari dalam. Perut ku didorong oleh seorang perawat dari atas, hening sesaat, lalu tiba-tiba—tangisan nyaring memecah udara.


Tangisan kecil itu datang sekitar pukul 13.10 siang.

Seorang perawat berkata, “Bayinya perempuan, Bu. Beratnya 2.500 gr dg panjang 47 cm”


Hatiku langsung hangat. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan. Aku belum sempat menyentuhnya, tapi tahu, itulah suara cinta pertama yang akan selalu kuingat sepanjang hidup.


Setelah bayi dibersihkan dan diperiksa, dokter melanjutkan menjahit luka operasi dengan tenang. Aku mendengar tangisan bayi mereda di kejauhan. Rasanya kosong tapi lega—aku tahu ia sudah aman.

---


Selesai operasi, aku dipindahkan ke ruang observasi. Tidak ada perlakuan istimewa, hanya pemeriksaan tekanan darah dan infus secara rutin. Tubuhku mulai menggigil, rasanya dingin, karena efek anestesi, tapi di sisiku Mama dan suami hadir, duduk diam sambil menatapku penuh harap. Mama rela berangkat jauh dari Bukittinggi demi menemani putrinya ini menyambut kelahiran pertamanya. Mereka tidak banyak bicara, hanya menggenggam tanganku — dan genggaman itu lebih menenangkan dari apa pun.


Beberapa jam kemudian, setelah kondisiku stabil, aku dibawa ke kamar rawat inap. Sore menjelang, sekitar pukul enam, pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk sambil membawa boks kecil.


“Ini bayinya, Bu.”


Dan di sanalah aku melihatnya — mungil, halus, terbungkus kain lembut. Wajahnya damai, matanya masih terpejam. Semua lelah, takut, dan air mata sejak subuh tadi seakan sirna dalam sekejap.


Hari itu, Ahad, 20 September 2020, tepat sehari sebelum ulang tahun ku, menjadi hari lahirnya cinta baru — hari aku benar-benar menjadi seorang ibu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curhat memulai homeschooling

Anak pendiam lebih mudah jadi sasaran?

MDM 5: Literasi Dakwah Muslimah